Empati Kepada Orang Lain, Kunci Lahirnya Sikap Ramah Lingkungan

Membuang sampah sembarangan itu tindakan egois. Tindakan itu mencerminkan ketiadaan empati kepada orang lain.

Tidak sedikit orang yang akan marah jika disebut dirinya orang yang mementingkan dirinya sendiri. Semua orang ingin dipandang sebagai orang yang penuh empati dan kasih sayang. Oleh karena itu tidak heran, banyak yang akan naik darah kalau dikatakan sebagai orang egois.

Lagipula, barang yang dibuang pun adalah hak milik si pembuang. Jadi, hak pribadi mereka kalau menganggap benda itu sudah tidak memiliki harga di mata mereka dan kemudian membuangnya.

Padahal kenyataannya memang demikian.

Pernahkah terpikirkan akibat dari tindakan membuang sampah sembarangan? Kebanyakan tidak. Kebanyakan orang hanya berpikir pendek dan terfokus pada diri dan kepentingannya sendiri saja.

Foto di atas bukanlah sebuah foto penyelamatan korban kecelakaan. Foto itu diambil tahun 2019 yang lalu di Jembatan Satu Duit, Kota Bogor. Peristiwanya juga tidak heboh karena tidak ada korban jiwa.

Penggunaan peralatan keselamatan seperti pendaki gunung itu dilakukan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi, yaitu “MEMUNGUT SAMPAH”.

Aliran sungai Ciliwung di Kota Bogor merupakan salah satu yang paling tercemar akibat pembuangan sampah ke sungai oleh rumahtangga. Sampah-sampah itu terbawa aliran dan kemudian tersangkut pada tiang jembatan atau bebatuan yang ada di sepanjang sungai.

Empati Kepada Orang Lain Kunci Sikap Ramah Lingkungan 2

Untuk menghindarkan dari lebih banyak kerusakan yang ditimbulkan, baik bagi lingkungan maupun pada prasarana yang ada, sampah-sampah tersebut harus diangkut.

Sayangnya, memungut sampah di aliran sungai tidak semudah yang dibayangkan. Di banyak lokasi sering terdapat tebing terjal yang menyulitkan proses pemungutan sampah.

Pengenaan perangkat keselamatan diperlukan untuk menghindari sang pemungut sampah mengalami kecelakaan yang membahayakan jiwanya.

Padahal, segala kerepotan itu tidak akan terjadi “jika”, si pembuang sampah punya rasa empati kepada orang lain.

Ia bisa berpikir sedikit ke depan ‘kerepotan apa yang akan dihasilkan” kalau benda tak berguna miliknya dibuang sembarangan.

Kulit pisang kalau dibuang sembarangan bisa menyebabkan orang lain yang menginjak terpeleset, jatuh, dan terluka. Sampah plastik bisa menyumbat aliran sungai dan menyebabkan banjir yang merusak.

Pemikiran-pemikiran seperti itu tidak akan hadir ketika seseorang sibuk mengedepankan kepentingan dirinya sendiri. Prinsip “Ah, yang penting gua nggak perlu jalan jauh, capek” adalah bentuk keegoisan. Si pembuang melemparkan tanggungjawab yang seharusnya berada di pundaknya kepada orang lain.

Cermin dari sebuah ketidakpedulian dan tidak adanya empati kepada orang lain.

Ketidakpedulian dalam skala kecil saja sudah bisa merepotkan banyak orang lain. Bayangkan saja kalau rasa empati itu tidak ada dalam dunia bisnis, seperti penebangan hutan secara serampangan demi profit, tanpa peduli imbasnya kepada masyarakat sekitar? Efeknya bisa berlipat ganda dan begitu juga bahayanya.

Oleh karena itu, jika memang Anda mau menjadi orang yang ramah lingkungan, hal pertama yang harus dimiliki bukanlah pengetahuan, tetapi empati kepada orang lain. Biasakanlah meluangkan waktu sejenak untuk melihat dampaknya di masa datang.

Leave a Comment