Konsep Ramah Lingkungan Berdasar Pada Prinsip Efisiensi

Salah satu hal yang sering menimbulkan pemahaman yang kurang tepat adalah pla pandang bahwa menerapkan konsep ramah lingkungan berarti kita “tidak boleh memakai”.

Padahal pandangan tersebut tidaklah benar.

Bagaimanapun, umat manusia akan membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup di dunia. Mereka butuh makanan untuk bisa tetap hidup, butuh pakaian untuk terhindar dari panas dan dingin, butuh kendaraan untuk pergi beraktivitas, dan banyak hal lainnya.

Tanpa itu semua, manusia akan mengalami banyak kesulitan dan hidupnya bisa terancam.

Hanya saja, manusia punya kecenderungan untuk lalai dan menjadi sangat egois sehingga memakai sesuatu secara “berlebihan”. Ujungnya, pemanfaatan sumber daya sering tidak maksimal dan melebihi yang dibutuhkan.

Contohnya saja, manusia sebenarnya hanya memerlukan pakaian tidak banyak setiap tahunnya. Kalau menyesuaikan dengan “kebutuhan”, mungkin celana atau baju yang dibutuhkan hanya sekitar 30-40 potong saja, termasuk pakaian, celana, celana dalam atau yang lain.

Tetapi, karena daya beli meningkat, mereka tidak lagi membeli pakaian sekedar untuk memenuhi keperluanya saja. Mereka juga ingin terlihat modis dan meningkatkan status di dalam masyarakat.

Hasilnya, lemari baju mereka menjadi penuh dengan pakaian yang sebenarnya tidak benar-benar diperlukan. Banyak orang membeli baju sekedar karena tidak ingin ketinggalan tren yang membuat dirinya seperti orang tidak mengikuti perkembangan zaman.

Padahal, industri fashion adalah sebuah industri yang paling tidak ramah lingkungan. Contohnya saja, untuk membuat sepotong celana jeans, butuh lebih dari 8000 liter air sejak awal hingga celana tersebut menjadi sampah.

Setelah menjadi sampahpun, celana itu akan terus memberikan dampak bagi lingkungan.

Oleh karena itu, untuk menjadi ramah lingkungan, hal terpenting adalah mengubah mindset atau pola pikir dulu. Ia harus mau memegang teguh prinsip efisiensi dalam kehidupannya. Juga, ia harus berusaha menerapkan pembelian berdasarkan fungsi/kebutuhan dan bukan karena keinginan.

Jika, memang hanya perlu 1 celana sebagai pengganti, beli 1 dan bukan 2 atau 3. Jangan pernah terpengaruh pada tren yang sifatnya hanya sementara.

Dengan begitu lemari pakaian tidak akan penuh dengan pakaian yang pada akhirnya sama sekali tidak dipakai dan rusak karena termakan ngengat atau menjadi rapuh.

Dan, tentunya, dampak buruk dari industri fashion terhadap lingkungan akan berkurang.

Masalahnya, maukah? Karena prinsip efisiensi berkaitan dengan ego manusia.

Leave a Comment