Dampak Gaya Hidup Minimalis Bagi Lingkungan

Minimalism lifestyle atau gaya hidup minimalis yang belakangan berkembang di dunia, sebenarnya, bukanlah sebuah konsep baru dalam kehidupan manusia. Meskipun dianggap sebagai pemikiran yang lahir setelah Perang Dunia II, yaitu antara tahun 1960, pemakaian konsep ini sudah ada sejak berabad yang lalu, seperti filosofi Zen yang diterapkan oleh para biksu Budha di Jepang.

Namun, gaya hidup ini menjadi begitu terasa di masa sekarang dimana budaya kapitalis dan materialis sudah merasuk ke dalam diri banyak orang. Ketika segala sesuatu diukur dari jumlah “kebendaan” yang dimiliki. Bertentangan dari yang dianut banyak orang, yaitu semakin banyak semakin baik, konsep gaya hidup minimalis menyarankan agar manusia menyingkirkan banyak hal yang tidak perlu dan fokus pada yang memang benar-benar dibutuhkannya.

Secara definisi, gaya hidup minimalis bisa diinterpretasikan

1/ Menyingkirkan hal-hal yang menjadi gangguan dalam hidup dan hanya berfokus pada hal-hal yang esensial atau penting dalam hidup karena dengan melakukan hal tersebut ia akan bisa menemukan kebahagiaannya atau berfokus pada hal-hal yang membahagiakannya

2/ Menyingkirkan hal-hal yang tidak membuatnya Bahagia dan hanya berfokus pada yang membahagiakannya saja

Intinya adalah pengejaran terhadap kebahagiaan.

Pencetusnya, tidak ada konsensus, tetapi di Amerika Serikat, konsep ini pernah dipopulerkan oleh Ralph Waldo Emerson dan Henry David Thoreau, filsuf dari negara tersebut. Sedangkan, konsep Zen sendiri sudah ada di Jepang sejak berabad sebelum itu.

Dampak Gaya Hidup Minimalis dan Lingkungan

Konsep minimalis lahir pada dasarnya bukan karena kepedulian terhadap lingkungan, tetapi lebih kepada usaha manusia untuk menemukan kebahagiaannya.

Namun, apabila diterapkan gaya hidup yang satu ini akan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kelestariannya.

Inti dari gaya hidup minimalis yang melakukan sesuatu “sesuai kebutuhan dasar” saja, akan menghasilkan manusia yang

  • Membeli pakaian bukan karena gengsi, tetapi sekedar untuk menahan panas dan dingin, dan segi kepantasan saja  akan mengurangi perburuan satwa langka untuk diambil bulunya
  • Membeli pakaian sesuai dengan kebutuhannya saja, bukan karena mengikuti rend fashion  jumlah pakaian yang dibeli tidak akan banyak karena hanya menyesuaikan dengan kebutuhan saja
  • Makan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja  tidak ada makanan yang terbuang, yang berarti pemakaian sumber daya alam pada tahap efisien
  • Hiburan tidak perlu ke tempat jauh, sekedar untuk melepas kepenatan saja  pemakaian transportasi penyebab polusi berkurang

Meski tidak diniatkan untuk menyelamatkan lingkungan, penerapan gaya hidup minimalis akan menghasilkan masyarakat yang

  • Hemat dalam pemakaian sumber daya sehingga tidak cepat habis
  • Efisien dalam memanfaatkan sumber daya alam, tambang, atau energi
  • Mengurangi polusi akibat makanan terbuang atau bepergian yang tidak perlu
  • Mengurangi proses produksi yang menjadi penyebab polusi karena manusia hanya memakai atau memakan yang mereka perlukan saja

Secara langsung, penerapan gaya hidup minimalis ini menerapkan prinsip-prinsip dasar ramah lingkungan, yaitu efisien dalam menggunakan banyak hal dan mengurangi hal-hal yang tidak perlu untuk mengurangi dampak bagi lingkungan.

Jadi, imbasnya akan sangat besar, jika semua manusia mengadopsinya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain manfaat bagi lingkungan, banyak manfaat melakukan hidup minimalis seperti ini, yaitu

  1. Hemat : karena kita tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu, maka pengeluaran pun akan lebih sedikit dan sisa untuk ditabung lebih banyak
  2. Hemat waktu dan tenaga  semakin banyak barang, semakin banyak hal yang harus diurus, semakin sedikit yang kita miliki maka semakin sedikit juga waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan
  3. Lebih fokus : dengan tidak terlalu banyak yang harus dirawat dan diurus, kitab isa fokus pada hal-hal yang penting saja
  4. Memiliki ruang yang lebih banyak  jika barang-barang di rumah, yang tidak terlalu diperlukan dibuang, kita bisa memiliki ruang yang lebih banyak karena ruang yang dipakai untuk penyimpanan barang tak perlu akan kosong
  5. Pemakaian waktu yang efisien  karena hanya melakukan hal-hal yang penting saja
  6. Mengurangi stress  karena tidak terlalu banyak beban yang harus dipikirkan dan cukup fokus pada hal-hal yang penting saja

Tentu saja, tidak mudah mengubah mindset masyarakat yang sudah kadung terikat pada gaya hidup kapitalis dan materialis. Butuh waktu yang panjang dan tentunya keuntungan yang bisa didapat dari penerapan gaya hidup seperti ini.

Namun, bila memang kita peduli terhadap lingkungan, mencoba mengadopsi gaya hidup minimalis, meski tidak sepenuhnya, akan memberi dampak positif kepada lingkungan karena kita terbiasa untuk menggunakan sesuatu secara efisien. Juga, kita akan terbiasa membeli sesuai kebutuhan dan bukan keinginan.

Leave a Comment